Rabu, 14 Desember 2011

Bangga Menjadi Pustakawan Gara-gara Film & Novel : Sebuah Pertarungan Eksistensi

Saya tak pernah bermimpi menjadi pustakawan. Mendengar nama pustakawan saja tak terbayangkan sebelumnya. Seingat saya dulu sewaktu kecil jika ditanya : cita-citanya ingin jadi apa ? Saya suka menjawab menjadi dokter atau arsitek. Tapi di tahun akhir saat saya hampir lulus SMA, saya justru tak yakin dengan cita-cita masa kecil saya, bahkan tak tahu profesi apa sebenarnya yang saya inginkan. Benar-benar labil !

Saya meyakini bahwa segala yang terjadi selalu ada hikmahnya. Gagal di UMPTN saat itu, tak membuat surut semangat saya untuk kuliah. Kuliah bagi jiwa muda saya menjadi jenjang pendidikan intelektualitas paling bergengsi dan istimewa. Jadi apapun yang terjadi, apapun jurusannya, saya tak terlalu peduli, yang penting kuliah. Titik.

Jadi secara labil dan serampangan, saya memilih program Diploma 3 Program Studi Teknisi Perpustakaan FISIP Universitas Airlangga Surabaya. Saya sama sekali tak punya gambaran seperti apa jurusan itu, apa yang akan saya pelajari, dan akan jadi apa saya. Tapi toh saya jalani juga. Saya belajar Pengantar Ilmu Perpustakaan, Katalogisasi, Klasifikasi, Akuisisi & Preservasi, Dokumentasi, Arsip, Manajemen, Teknologi Informasi dan masih banyak lagi.

Ok, jurusan ini ternyata menarik ! Banyak hal baru yang saya temukan :
  • bahwa ternyata dunia perpustakaan itu sangat komplek 
  • bahwa bekerja di perpustakaan itu tidak hanya mengurusi buku 
  • bahwa mengelola dan memberi informasi yang tepat adalah tugas utama pustakawan, 
  • bahwa menjadi pustakawan tidaklah hanya melulu mengerjakan tugas-tugas teknis, tapi juga harus mempersenjatai diri dengan banyak pengetahuan di luar ilmu perpustakaan, apakah itu manajemen, marketing, psikologi, sejarah, bahkan kalau bisa sih harus menguasai segala ilmu, harus serba tahu, harus serba bisa, karena itu yang dituntut pengguna, pemustaka, klien, atau customer kita.

Meskipun demikian, masih saja ada masalah yang mengganggu saya, yaitu bagaimana menjelaskan pada orang tentang betapa menariknya jurusan yang saya pilih. Jika orang bertanya, “Dinia, kamu kuliah di jurusan apa ?” Lalu saya menjawab, “Jurusan Perpustakaan.” Secara spontan seringkali orang balik bertanya, “Heh ?! Jurusan apaan tuh??” atau beberapa versi pertanyaan seperti : “Heh ?! Ada toh jurusan macam itu ? Mau jadi apa kuliah di Jurusan Perpustakaan ? Mau jaga perpustakaan saja ada sekolahnya toh ? Halah..mau nata buku perpus saja koq sekolah sampe perguruan tinggi ?”

Ya Tuhan…harus dari mana saya menjelaskannya? Rasanya eksistensi profesi pustakawan seolah tidak ada artinya. Rasanya pustakawan bukan profesi keren bagi masyarakat umum. Mengapa bisa begitu ? Serta merta saat itu kepercayaan diri saya luruh. Saya bahkan sempat bertanya pada ayah saya, “Ayah, apa ayah akan bangga pada saya jika saya menjadi pustakawan ?” Ayah saya menjawab, “Ayah akan selalu bangga padamu jika kamu melakukan apapun profesi yang kamu pilih dengan baik, dengan sepenuh hati, penuh tanggungjawab dan dedikasi. Profesi apapun jika dijalani dengan setengah hati tak akan bermanfaat bagi siapapun, Nak!”

Baiklah, ayah..anakmu ini akan menyusun kembali semangat dan kepercayaan diri, yang sempat terberai. Saya putuskan untuk tidak ambil pusing dengan pendapat negatif orang. Saya juga berjanji suatu saat saya akan menemukan sebuah jawaban agar orang awam bisa memahami, juga agar saya punya jawaban untuk diri sendiri dengan kepala tegak bahwa : Ya, pustakawan juga profesi keren dan tidak boleh diremehkan !

Di kampus, saya mendapat banyak masukan, dan motivasi baik itu dari dosen, senior, maupun dari mata kuliah yang makin membuka wawasan saya tentang dunia perpustakaan. Lulus D3 Teknisi Perpustakaan, saya merasa belum cukup. Saya ingin menggali lagi, ingin menambah lagi pengetahuan saya. Saya lalu melanjutkan pada Program S1 Jurusan Ilmu Informasi & Perpustakaan FIKOM Universitas Padjajaran Bandung. 

Kuliah S1 di JIP Fikom Unpad, membuat saya meledak ! Rasanya saya mendapat banjir informasi dan wawasan baru tentang dunia perpustakaan. Para dosen tidak hanya mengajarkan hal-hal teknis teoritis, tapi juga menghembuskan isu-isu dan tren baru di dunia perpustakaan. Tidak hanya berceramah, tapi lebih sering berdiskusi. Alih-alih memberi banyak bahan kuliah, mahasiswa justru ‘dihajar’ dengan tugas-tugas yang membuat kami jadi menemukan sendiri teori-teori sekaligus aplikasinya. Saya suka dengan model belajar seperti ini. Menjadikan saya lebih mandiri, menerbitkan curiosity, kepekaan dan optimisme.

Nah, dalam suasana belajar yang positif itu, saya masih bisa menyisihkan waktu untuk melakukan hal-hal yang saya sukai : nonton film dan baca novel. Kala itu saya menemukan film National Treasure. Film ini berkisah tentang perburuan harta karun nasional oleh Ben Gates (diperankan oleh Nicolas Cage). Dalam perburuan itu dia mengumpulkan petunjuk demi petunjuk yang tersebar bagai puzzle penuh teka teki.
Sumber Gambar : http://ia.media-imdb.com/images/M/MV5BMTY3NTc4OTYxMF5BMl5BanBnXkFtZTcwMjk5NzUyMw@@._V1._SY317_.jpg

Sampailah ia pada sebuah petunjuk yang tersembunyi di belakang lembar naskah Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan). Bersama sahabatnya Riley Pool (diperankan oleh Justin Bartha), Ben terpaksa mencuri Declaration of Independence yang tersimpan di National Archives and Records Administration (NARA), karena jika tidak maka naskah deklarasi itu akan dicuri pencari harta karun lain yang justru akan merusak naskah deklarasi tersebut. Di sinilah Ben bertemu dengan Dr Abigail Chase (diperankan oleh Diane Kruger), seorang archivist, ahli dalam dokumen sejarah, sekaligus kurator NARA yang bertanggung jawab atas naskah deklarasi kemerdekaan. 

Pada bagian inilah puncak kekaguman saya pada ilmu perpustakaan terbit. Film ini mampu menggambarkan betapa sistematis dan canggihnya keamanan di National Archives and Records Administration (NARA) demi menjaga arsip dan dokumen bersejarah. Juga dijelaskan bagaimana NARA  melakukan preservasi arsip dan dokumen bersejarah yang sudah menjadi naskah kuno dan membutuhkan penanganan khusus. 


Di Film ini, karakter tokoh Dr. Abigail Chase adalah tokoh yang paling menarik perhatian saya. Seorang arsiparis dan dokumentalis sejarah yang pintar, cantik, berpenampilan menarik, dan penuh percaya diri. Dia juga mampu menampilkan sosok ahli preservasi naskah kuno yang sangat kompeten, penuh dedikasi, dan dalam pandangan saya : sungguh sangat keren ! Binggo !! Akhirnya saya menemukan bukti ‘ke-kerenan’ profesi saya.

Sumber gambar : http://images.wikia.com/nationaltreasure/images/2/29/2007_national_treasure_book_of_secrets_008.jpg


Selain film, ada kekerenan dunia perpustakaan yang juga saya temukan pada novel-novel yang saya baca. Dua diantaranya yaitu novel karya Jostein Gaarder, Bibbi Bokkens Magiske Bibliotek (Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokkens) dan novel karya Dan Brown, Angels & Demons.

 Dalam Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokkens, Jostein Gaarder bercerita tentang dua orang anak yang masih berhubungan sepupu, Berit dan Nils. Mereka terlibat dalam petualangan penuh misteri yang berawal dari buku surat yang mereka tulis bersama. Novel ini juga menyajikan pernak-penik dunia literasi seperti incabulla, sejarah buku pertama, Guttenberg, teori sastra, teori fiksi , teori menulis, drama, film, perpustakaan dalam gua, bibliografer, dan yang lebih menarik, novel ini juga mengenalkan Dewey Decimal Clasification secara lengkap ! Wow !! Itu ilmu klasifikasi ajaib dunia perpustakaan. Dunia saya ! Keren sekali !
Sumber gambar : http://luckty.files.wordpress.com/2011/08/perpustakaan-ajaib-bibbi-bokken1.jpg

Sedangkan Dan Brown dalam Angels & Demon, berkisah tentang penyelidikan seorang profesor iconology agama dan sejarah seni di Harvard University, Robert Langdon, yang menyelidiki tentang kematian misterius ilmuawan fisika yang jasadnya diberi stempel illuminati. Penyelidikan Langdon ini membawa kita berjalan-jalan ke Vatikan City dan mengenal tempat-tempat bersejarah di kota suci bagi umat Katholik itu. Menariknya dalam novel ini diceritakan bahwa Longdon juga melakukan penyelidikan ke The Vatican Secret Archive (Arsip Rahasia Vatikan) untuk melihat notebook Galileo yang berisi tanda-tanda rahasia lokasi Illuminati. Dalam novel ini digambarkan ruang penyimpanan naskah kuno yang ditata sedemikian rupa dengan memperhatikan kondisi udara, kelembaban dan segala sesuatu yang bisa mengamankan naskah kuno dari kerusakan. Polimer kertas dari naskah kuno yang sangat rapuh menjadikan Pusat Arsip Rahasia Vatikan menyediakan tempat penyimpanan naskah yang kedap udara. Nah, sekali lagi, dunia perpustakaan memang keren dan ajaib! 

Memang banyak polemik dan kontroversi yang timbul dari cerita novel Angels & Demons.   Akan tetapi fakta tentang tempat-tempat bersejarah di Vatikan dalam novel ini ternyata memang benar. Seperti The Vatikan Secret Archive yang letaknya berdekatan dengan Perpustakaan Apostolik, yang merupakan salah satu keajaiban dunia arsip (didirikan tahun 1475, yang menyimpan lebih dari 60.000 jilid naskah, 100.000 tanda tangan ukiran dan peta). Arsip Rahasia Vatikan juga berada dekat Museum Vatikan, diakses melalui Porta di S. Anna di Porta Angelica. Di dalamnya juga berisi kertas negara, buku harian dari keluarga Romawi, buku rekening kepausan, korespondensi dan sejenisnya. Menurut situs Vatikan, dokumen tertua terakhir diakses pada abad ke-8, dan tempat ini tidak terbuka untuk umum.

Saya benar-benar termotivasi oleh film dan novel diatas. Rasanya menyenangkan sekali menemukan kepercayaan diri, meyakini bahwa profesi pustakawan dan dunia perpustakaan adalah hal yang menarik dan tentu saja keren. Ketidaktahuan masyarakat tentang profesi pustakawan dan pandangan sebagian dari mereka yang kurang mengapresiasi dari profesi ini sebenarnya tidak perlu merontokkan semangat kita untuk maju terus dan meningkatkan kompetensi kita. 

Saya sempat berbincang dengan Bapak BlasiusSudarsono tentang masalah kepustakawanan. Saya ingin mengutip ungkapan Bapak Blasius dalam sebuah kuliah umum, bahwa “Garam yang rela melebur, namun memberi rasa asin. Garam dicari jika masakan rasa hambar. Apakah perpustakaan juga dicari jika tidak ada ? Apakah pustakawan juga dicari saat tidak hadir? Jelas tidak akan dicari apabila perpustakaan atau pustakawan tidak memberi rasa pada masyarakat lingkungannya. Sebagai garam jika sudah hilang rasa asinnya tentu tidak berguna dan akan dibuang.”

Betapa senangnya jika kita bisa menjadi ‘garam’ yang berguna, dicari saat makanan terasa hambar, dan memberi rasa asin. Ini berarti pustakawan akan menjadi profesi yang keren dan penting jika kita sebagai pustakawan mampu menunjukkan eksistensi kita di masyarakat. Kita tidak ingin hanya menjadi ‘penjaga’ perpustakaan, bukan ?! ^_^

5 komentar:

  1. Wuuh panjang juga ceritanya ya :p

    btw peran pustakawan memnag gak bisa dianggap remeh dan well dari cerita kamu pustakawan emang keren! :D

    mungkin profesi pustakawan di indonesia kurang populer karena belum adanya budaya membaca pada masyarakat. Pengunjung perpustaakan pun mungkin yang paling sering hanya kalangan akademisi.

    BalasHapus
  2. Tulisan yg enak dibaca, "readers' friendly", inspiratif, penting utk dipasang pada majalah dinding di sekolah2, atau dibacakan didepan kelas oleh guru bahasa Indonesia (bisa dijadikan topik diskusi dari segi sastra maupun ttg karier, dll).
    Salam dari kota tempe mendoan asli Banyumas. VIS.

    BalasHapus
  3. Keren nih, saya suka posting ini, juga karena suka "National Treasure" dan "Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken" :D

    BalasHapus
  4. Bagus nih buat mereka yang belum tau dunia perpustakaan, termasuk untuk mereka yang merasa "nyasar" kuliah ilmu perpustakaan. Ada sebuah film, "The Librarian: Curse of the Judas Chalise" yang juga menggambarkan pentingnya peran pustakawan.

    BalasHapus
  5. ada juga "Heartbreak Library",, meskipun agak cengeng sih,, tapi pustakawan juga bisa dekat dengan pemustaka..

    BalasHapus